Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan tetap melarang ekspor bahan tambang mentah, termasuk bauksit dan tembaga. Langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang sudah diterapkan sejak tahun 2019 untuk meningkatkan industri dalam negeri.
“Dalam rangka melakukan transformasi ekonomi, tidak ada pilihan lain, kita perlu industri di dalam negeri,” ungkap Bahlil saat peluncuran dan bedah buku berjudul “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” pada Jumat (7/8).
Pelarangan ekspor pertama kali diterapkan pada komoditas nikel, dengan tujuan mendorong hilirisasi sumber daya alam di dalam negeri. Menurut pemerintah, hilirisasi bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam melalui pengembangan industri pengolahan yang lebih optimal.
“Hilirisasi dan kehadiran industri dalam negeri dapat menciptakan nilai tambah serta lapangan pekerjaan, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Dalam konteks hilirisasi bauksit, Menteri Investasi dan Hilirisasi sebelumnya, Rosan Roeslani, melaporkan bahwa realisasi investasi hilirisasi bauksit mengalami lonjakan sebesar 193%, mencapai Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya mencapai Rp13,7 triliun.
“Biasanya, nikel selalu menjadi komoditas dengan investasi tertinggi. Namun kini, bauksit mengambil alih posisi tersebut, berkat sejumlah proyek pengolahan yang dilakukan oleh investor domestik dan asing,” katanya, seperti dikutip dari Antara.
Investasi hilirisasi bauksit ini mengalahkan nikel yang tercatat sebesar Rp29,4 triliun, diikuti tembaga dengan Rp16,7 triliun, dan besi baja senilai Rp13,2 triliun. Selain itu, komoditas lain seperti pasir silika dan logam tanah jarang juga berkontribusi signifikan.
Secara keseluruhan, investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, naik 5,7% dibandingkan tahun sebelumnya, dan menyumbang 29,8% dari total investasi nasional yang mencapai Rp511,8 triliun.
Rosan menambahkan bahwa pertumbuhan investasi ini didorong oleh pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh berbagai investor. Perkembangan ini menunjukkan bahwa hilirisasi di Indonesia mulai merata dan tidak lagi bergantung pada nikel sebagai satu-satunya komoditas unggulan.
Salah satu proyek penting dalam pengolahan bauksit adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I yang terletak di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikembangkan oleh Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun dan membutuhkan sekitar 3,3 juta ton bauksit setiap tahunnya, yang berfungsi untuk memperkuat rantai pasokan industri aluminium nasional.